Sambut Hari Raya dengan Pawai Obor, di Purbalingga Terjadi Tiga Kali Shalat Id

IMG 20250401 WA0009

Mercusuar.co, Purbalingga – Tradisi menyambut malam lebaran pada hari raya Idul Fitri 1 Syawal dengan takbir keliling dan pawai obor masih menjadi tradisi umat Islam di Desa Majasem, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga.

Ratusan warga desa tersebut melakukan takbir keliling dengan memainkan obor api berkeling desa sambil mengumpulkan takbir dan tahmid, Minggu (30/3/2025).

Paginya, bersama umat Islam yang lain melaksanakan shalat id di masjid-masjid terdekat. Kemudian sebagian dari mereka melanjutkan ziarah kubur ke leluhur ataunorang tua masing-masing.

hal tersebut berbeda dengan umat Islam ABOGE (Alif Rebo Wage) yang berbeda hari dan tanggal dalam melaksanakan shalat id pada setiap 1 Syawal.

Sebagaimana tradisi yang dianut umat Islam Aboge yang memiliki perhitungan dalam menentukan tanggal sesuai kalender Jawa (Tahun Je – red), umat Islam Aboge Desa Onje, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, hari ini, Selasa (1/4)2025) baru melaksanakan shalat Idul Fitri, 1 Syawal 1446 Hijriyah.

Menurut pemahaman umat Islam Aboge, orang Jawa memiliki perhitungan “Je Saing”, yakni tahun Je dimulai pada hari Selasa Pahing. Maka perhitungan datangnya 1 Sawal menggunakan perhitungan “Wal Jiro” (Sawal Siji Loro – Syawal = Siji/1, Paing = Loro/2), maka penentuan 1 Sawal jatuh pada hari Selasa Paing, Selasa (1/4/2025).

“Kita menggunakan hitungan Wal Ji Ro dan ketmunya Je Saing. Jadi ketemuannya 1 Sawal jatuh pada hari Selasa Paing, 1 April 2025,” ungkap Imam masjid Onje, Kyai Marsudi usai menunaikan shalat id di masjid Onje, Selasa (1/4/2025).

Hal tersebut berbeda dengan 1 Syawal 1446 Hijriyah yang ditentukan dari hasil sidang isbat oleh pemerintah melalui kementerian agama dan Nahdlatul Ulama (NU) serta perhitungan hisab oleh Muhammadiyah yang menentukan 1 Syawal 1446 Hijriyah jatuh pada hari Senin (31/3)2025).

Maka secara serentak umat Islam secara mayoritas di Indonesia melaksanakan shalat id pada hari Senin (31/3/2025). Hal tersebut juga berbeda dengan penentuan 1 Syawal yang dilakukan oleh jamaah muslimin Hizbullah yang menetapkan 1 Syawal 1446 Hijriyah jatuh pada hari Minggu (30/3/2025).

Sebagaimana dilansir dari Serayu News, Minggu (30/3/2025) puluhan umat Islam yang tergabung dalam jamaah Muslimin Hizbullah yang berada di Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga menentukan 1 Syawal 1446 Hijriyah selisih 1-2 hari sebelum tanggal dan hari yang ditentukan Pemerintah, NU, Muhammadiyah, maupun Aboge.

Puluhan umat Muslimin Hizbullah di Kecamatan Kejobong yang tersebar di Desa Lamuk dan Bandingan melaksanakan shalat id pada hari Minggu (30/3/2025) pagi.

Pelaksanaan shalat Id yang dilakukan oleh umat Islam Muslimin Hizbullah tersebut dijaga oleh sejumlah anggota TNI-Polri dari Koramil dan Polsek Kejobong, Pemerintah Kecamatan Kejobong dan pemerintah desa setempat.

Camat Kejobong, Nurtejo membenarkan perihal peringatan Idul Fitri oleh jamaah Muslimin Hizbullah yang sehari lebih awal dari yang ditetapkan oleh pemerintah melalui sidang isbat yang jatuh pada Senin (31/3/2025).

Hal tersebut sesuai dengan surat edaran yang ditandatangani oleh Imaamul Muslimin, Yakhsallah Mansur tentang penentuan 1 Syawal 1446 Hijriyah berdasarkan hasil hisab dimana tanggal 29 Ramadan 1446 Hijriyah pada waktu maghrib hilal tidak dapat terlihat di Indonesia.

Dan berdasarkan hasil rukyat, ternyata pada tanggal 29 Ramadan 1466 H, waktu maghrib, hilal terlihat di beberapa lokasi pemantauan, di antaranya di Tumair dan di Sudair oleh Abdullah Al-Khudloiry, Saudi Arabia.

Dari pertimbangan di atas, maka Imaamul Muslimin menetapkan, menentukan tanggal 1 Syawal 1446 Hijriyah jatuh pada hari Ahad atau Minggu tanggal 30 Maret 2025 M.

Menanggapi hal demikian, Camat Nurtejo berpendapat bahwa pihaknya dan masyarakat menghormati atas perhitungan penentuan 1 Syawal 1446 Hijriah oleh jamaah Muslimin Hizbullah Hizbullah tersebut.(Angga)

Pos terkait