Hari Raya Kuningan, Ini Makna yang Perlu Diketahui

10kkuningan
Mercusuar/Dok - Hari Raya Kuningan.

MERCUSUAR.CO Setelah merayakan Hari Raya Galungan, umat Hindu Bali biasanya akan merayakan Hari Raya Kuningan. Apakah Hari Raya Kuningan itu?

Hari Raya Kuningan adalah hari raya bagi umat Hindu Bali yang jatuh pada hari Saniscara (Sabtu) kliwon wuku Kuningan dan dilaksanakan setiap 210 hari menggunakan perhitungan kalender Bali (1 bulan dalam kalender Bali adalah 35 hari).

Biasanya Hari Raya Kuningan dirayakan 10 hari setelah Hari Raya Galungan.

Sedangkan makna Hari Raya Kuningan adalah peningkatan spiritual dengan cara introspeksi agar terhindar dari mara bahaya.

Sebutan lain dari Hari Raya Kuningan adalah hari resepsi bagi Hari Galungan yang artinya wujud kemenangan Dharma melawan Adharma di mana pemujaannya ditujukan kepada para Deva dan Pitara.

Tujuannya adalah agar melaksanakan penyucian serta mukti, atau menikmati sesaji yang dipersembahkan.

Dalam ajaran Hindu Bali, Dharma bukan sekadar diwacanakan, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal itu tertuang dalam Kitab Sarasamuccaya (Sloka 43), di mana keutamaan Dharma bagi orang yang melaksanakan adalah: Kuneng sang hyang dharma, mahas midering sahana, ndatan umaku sira, tan hanenakunira, tan sapa juga si lawanikang naha-nahan, tatan pahi lawan anak ning stri lanji, ikang tankinawruhan bapanya, rupaning tan hana umaku yanak, tan hana inakunya bapa, ri wetnyan durlaba ikang wenang mulahakena dharma kalinganika.

Artinya: Adapun dharma itu, menyelusup dan mengelilingi seluruh yang ada, tidak ada yang mengakui, pun tidak ada yang diakuinya, serta tidak ada yang menegur atau terikat dengan sesuatu apapun, tidak ada bedanya dengan anak seorang perempuan tuna susila, yang tidak dikenal siapa bapaknya, rupa-rupanya tidak ada yang mengakui anak akan dia, pun tidak ada yang diakui bapa olehnya”. Perumpamaan ini diambil karena, bagi manusia, sangat sulit untuk dapat mengetahui dan melaksanakan dharma itu. Di samping itu pula dharma sangatlah utama dan rahasia, hendaknya ia dicari dengan ketulusan hati secara terus-menerus.

Kemudian dalam Sarasamuccaya (sloka 564) juga menyebutkan: Lawan ta waneh, atyanta ring gahana keta sanghyang dharma ngaranira, paramasuksma, tan pahi lawan tapakning iwak ring wwai, ndan pinet juga sire de sang pandita, kelan upasama pagwan kotsahan.

Artinya: Lagi pula terlampau amat mulia dharma itu, amat rahasia pula, tidak bedanya dengan jejak ikan didalam air, namun dituntut juga oleh sang pandita dengan ketenangan, kesabaran, keteguhan hati terus diusahakan.

Pos terkait