Sejarah Asal Usul Kecamatan Kaliwiro: Dari Perjuangan Kyai Ngalwi Hingga Masa Kini

Kecamatan Kaliwiro, terletak di bagian selatan Kabupaten Wonosobo, dikenal tidak hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena sejarah perjuangannya yang kaya.
Kecamatan Kaliwiro, terletak di bagian selatan Kabupaten Wonosobo, dikenal tidak hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena sejarah perjuangannya yang kaya.

MERCUSUAR.CO, WONOSOBOKecamatan Kaliwiro, terletak di bagian selatan Kabupaten Wonosobo, dikenal tidak hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena sejarah perjuangannya yang kaya. Di lansir dari sinaubudayajawa.blogspot.com Dengan luas wilayah 100,08 km², Kecamatan ini berada di ketinggian antara 250 hingga 300 meter di atas permukaan laut, dikelilingi oleh Gunung Lawang di selatan dan Bukit Dempes di utara, dengan koordinat S7°27.510′ lintang selatan dan E109°51.380′ bujur timur.

Pasar Kaliwiro. (Dok. Zahid)
Pasar Kaliwiro. (Dok. Zahid)

Sejarah Kecamatan ini mencatat perjuangan gigih pasukan KRT Kertowaseso dan para santri di bawah pimpinan Kyai Alwi dalam melawan penjajah Belanda. Dari tahun 1825 hingga 1830, pasukan ini berhasil meraih banyak kemenangan dalam perang gerilya, membuat mereka ditakuti dan disegani oleh tentara Belanda.

Bacaan Lainnya

Popularitas keberanian dan kehebatan para laskar santri ini menjadikan daerah tersebut terkenal sebagai tempat para perwira. Nama “Kaliwiro” sendiri berasal dari nama Kyai Alwi atau Ali atau Ngalwi, dan kata “Wiro” yang berarti perwira dalam bahasa Jawa. Seiring waktu, nama Ngaliwiro berubah menjadi Kaliwiro, mengikuti kebiasaan penamaan tempat oleh masyarakat Jawa.

Kisah Kyai Alwi, meskipun penting, kurang terdokumentasikan dalam literatur sejarah. Beliau lebih dikenal sebagai pendukung dan penasihat spiritual Ki Ageng Selomanik, pemimpin laskar santri melawan Belanda. Karena peran Kyai Alwi yang lebih banyak di balik layar, namanya tidak setenar Ki Ageng Selomanik. Hingga akhir hayatnya, tidak banyak catatan yang menggambarkan kehidupan Kyai Alwi. Namun, ia diyakini dimakamkan di Kecamatan ini, bersama istrinya.

Awalnya, makam Kyai Alwi berada di selatan jalan yang menghubungkan Kecamatan Kaliwiro dan Kecamatan Kalibawang, di sebuah bukit kecil yang kemudian diratakan pada tahun 1966 untuk pembangunan kompleks perkantoran (sekarang BRI Unit Kaliwiro). Makamnya kemudian dipindahkan ke kompleks TPU Manisjangan, selatan SDN 1 Kaliwiro, tempat peristirahatan terakhirnya hingga kini.

Dengan sejarah yang kaya dan nilai-nilai perjuangan yang masih terasa, menjadi simbol keberanian dan keteguhan masyarakatnya. Perjuangan para leluhur ini terus diingat dan dijadikan inspirasi bagi generasi penerus dalam menghadapi tantangan masa kini.

Pos terkait