Kisah Sukses Djoko Susanto: Dari Toko Kelontong Hingga Menjadi Raja Ritel Alfamart dan Alfamidi

Djoko-Susanto
Djoko-Susanto

MERCUSUAR.CO, Jakarta, 30 Mei 2024 – Djoko Susanto, dikenal juga sebagai Kwok Kwie Fo, adalah tokoh sukses di balik jaringan ritel Alfamart dan Alfamidi yang kini telah menjelma menjadi ikon ritel modern di Indonesia. Perjalanan bisnisnya yang luar biasa dimulai sejak tahun 1966, saat ia memutuskan untuk meninggalkan bangku SMA dan memulai kariernya sebagai pegawai di sebuah perusahaan perakitan radio. Namun, rasa tidak betah membuatnya beralih membantu bisnis kelontong milik ibunya di Petojo, Jakarta.

Awal Mula di Toko Sumber Bahagia
Toko kelontong ibunya, yang dikenal sebagai Toko Sumber Bahagia, menjual berbagai barang kebutuhan sehari-hari seperti kacang tanah, minyak sayur, sabun mandi, dan rokok. Djoko bekerja keras menjaga warung dari pagi hingga malam. Seiring berjalannya waktu, warung tersebut mulai fokus menjual rokok dalam skala besar, dengan Gudang Garam sebagai mitra utamanya.

Bacaan Lainnya

Tak disangka, penjualan rokok di warung ini meningkat pesat. Pada tahun 1987, Djoko telah memiliki 15 jaringan toko grosir dan dikenal sebagai penjual rokok Gudang Garam terbesar di Indonesia. Kesuksesan ini menarik perhatian Putera Sampoerna, pemimpin PT HM Sampoerna.

Pertemuan dengan Putera Sampoerna
Pertemuan dengan Putera Sampoerna pada akhir tahun 1986 menjadi titik balik dalam hidup Djoko. Ia diangkat menjadi Direktur Penjualan PT Sampoerna, sebuah posisi strategis yang membantu PT HM Sampoerna naik ke peringkat kedua terbesar di industri rokok Indonesia, setelah Gudang Garam.

Djoko juga dipercaya menjadi direktur PT Panarmas, distributor rokok Sampoerna. Di posisi ini, ia turut serta dalam memasarkan merek baru Sampoerna, yakni Sampoerna A Mild, yang diluncurkan pada tahun 1989. Rokok ini kemudian menjadi salah satu produk paling populer di Indonesia.

Transformasi Menjadi Pengusaha Ritel
Sukses dalam industri rokok, Djoko memutuskan untuk mengembangkan bisnisnya ke sektor ritel. Pada tahun 1989, dengan modal Rp 2 miliar, ia mengubah gudang Sampoerna di Jl. Lodan No. 80 menjadi Toko Gudang Rabat, bersama dengan Putera Sampoerna yang memegang 40% saham. Toko Gudang Rabat awalnya berfungsi sebagai distributor rokok, tetapi kemudian berkembang menjadi toko kelontong yang menjual berbagai macam barang.

Perkembangan Alfa Minimart dan Alfamart
Toko Gudang Rabat tumbuh pesat dan membuka banyak cabang di berbagai kota di Indonesia. Pada tahun 1990-an, toko ini bersaing ketat dengan Indomaret, ritel yang didirikan oleh Salim Group, dengan memiliki 32 gerai. Nama toko kemudian diubah menjadi Alfa Minimart pada 18 Oktober 1999 di bawah PT Sumber Alfaria Trijaya. Konsep minimarket ini mendapat sambutan positif dari masyarakat.

Pada 18 Januari 2000, Alfa Minimart resmi go public, dengan nilai kapitalisasi pasar yang diperkirakan mencapai US$ 108,29 juta. Sejak 1 Januari 2003, nama Alfa Minimart berubah menjadi Alfamart. Putera Sampoerna terus mendukung dengan suntikan modal, memungkinkan Alfamart berkembang pesat dan menjadi jaringan minimarket terbesar di Indonesia dengan ribuan gerai.

Kehadiran Alfamidi
Selain Alfamart, Djoko juga mengembangkan jaringan ritel lain yaitu Alfamidi, yang didirikan pada 28 Juni 2007 di bawah PT Midimart Utama (MiDi) dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. Meskipun masih berada dalam manajemen yang sama dengan Alfamart, Alfamidi memiliki konsep yang berbeda, dengan ukuran toko yang lebih besar dan penawaran produk yang lebih variatif.

Kesuksesan dan Warisan
Keberhasilan Djoko Susanto dalam membangun dan mengembangkan jaringan ritel Alfamart dan Alfamidi tidak hanya menunjukkan keuletan dan visi bisnisnya, tetapi juga memberikan kontribusi besar dalam sektor ritel modern di Indonesia. Djoko Susanto telah membuktikan bahwa dengan kerja keras dan ketekunan, seseorang dapat meraih kesuksesan besar dan memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional.

Pos terkait