Kapulaga: Ratu Rempah yang Kaya Manfaat dan Bernilai Tinggi

Kapulaga: Ratu Rempah yang Kaya Manfaat dan Bernilai Tinggi
Kapulaga: Ratu Rempah yang Kaya Manfaat dan Bernilai Tinggi

MERCUSUAR.CO, Wonosobo – Kapulaga, yang dikenal sebagai “Queen of Spices,” merupakan salah satu rempah paling dicari di dunia. Dengan penggunaannya yang meluas dalam berbagai sektor, kapulaga memiliki posisi yang istimewa dan sangat berharga.

Kapulaga dalam Sejarah dan Pemanfaatannya
Menurut Nelly Safitri dalam bukunya “Bumbu Rempah” (2019), kapulaga adalah buah kering dari tanaman herbal abadi Elettaria cardamomum Maton, bagian dari keluarga Zingiberaceae. Minyak esensial dari kapulaga banyak digunakan dalam industri makanan, minuman keras, parfum, dan farmasi sebagai perasa dan karminatif.

Kapulaga dikenal dengan ciri-cirinya yang unik, berupa buah berbentuk kapsul dengan diameter 1-1,5 cm, memiliki garis-garis rapat dan berambut pendek halus. Buahnya, yang berkumpul dalam tandan kecil dan pendek, memiliki mahkota sisa perhiasan bunga yang berbulu dan berwarna kuning kelabu. Ketika masak, buah kapulaga akan pecah dan terbelah berdasarkan ruang-ruangnya.

Budidaya Kapulaga di Indonesia
Indonesia merupakan salah satu negara yang aktif membudidayakan kapulaga. Dalam buku “Pengenalan dan Pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) Kapulaga” (Pertanian Press, 2022), dijelaskan bahwa kapulaga dikembangkan hampir di semua provinsi di Indonesia, kecuali di Sulawesi, Maluku, dan Papua. Sentra utama pengembangan kapulaga terletak di Pulau Jawa, yang selama dua dekade terakhir mencakup lebih dari 95% luas panen kapulaga di seluruh Indonesia.

Sejumlah daerah di Indonesia memiliki sebutan lokal untuk kapulaga, seperti palago di Sumatera, puwar di Minangkabau, kapulogo di Jawa, kapol di Sunda, palagha di Madura, garidimang di Bugis, dan karkolaka di Bali. Kapulaga di Indonesia terdiri dari dua jenis utama: kapulaga lokal atau kapulaga jawa (Amomum compactum Soland ex. Maton) dan kapulaga sabrang atau kapulaga sejati (Elettaria cardamomum (L.) Maton).

Keistimewaan Kapulaga
Kapulaga jawa memiliki buah berwarna putih, berbentuk bulat, dengan kadar minyak atsiri 2-3,5 persen dan aroma yang biasa. Sebaliknya, kapulaga sabrang berwarna hijau, berbentuk lonjong, dengan kadar minyak atsiri lebih tinggi (5-8 persen) dan aroma yang lebih kuat.

Kapulaga dinobatkan sebagai ratu rempah karena manfaatnya yang luas. Selain sebagai rempah untuk masakan, kapulaga juga digunakan dalam industri farmasi, herbal, dan parfum. Kandungan bahan aktif seperti sineol, terpen, terpineol, dan borneol menjadikan kapulaga bahan penting dalam berbagai produk. Minyak atsirinya digunakan sebagai pemberi aroma, sementara efek farmakologisnya mampu menyembuhkan batuk, peluruh dahak, perut kembung, penurun demam, antitusif, dan antimual.

Budidaya dan Panen Kapulaga
Budidaya kapulaga di Indonesia tergolong mudah. Menurut situs Pertanian.go.id, kapulaga dapat dikembangkan secara vegetatif dari pohon induk, dengan stek anakan atau rimpang bertunas. Tanaman induk yang sehat berumur 10-12 bulan biasanya dipilih untuk stek anakan, memastikan tidak ada gejala penyakit.

Kapulaga siap dipanen setelah berumur tujuh bulan dengan daun yang telah rimbun. Panen dapat dilakukan beberapa kali dalam setahun, dan tanaman kapulaga bisa terus dipanen hingga berumur 15 tahun.

Kapulaga, dengan julukannya sebagai ratu rempah, memiliki nilai yang sangat tinggi dan manfaat yang luas. Dari penggunaannya dalam industri makanan hingga farmasi, kapulaga tetap menjadi komoditas penting yang terus dibudidayakan dan dimanfaatkan secara optimal di Indonesia dan seluruh dunia.

Pos terkait