976 Kasus DBD di Gunungkidul, Empat di Antaranya Meninggal Mayoritas Berusia Anak-Anak

Grafik Demam Berdarah di Gunungkidul
Grafik Demam Berdarah di Gunungkidul

MERCUSUAR.CO, Gunungkidul – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Gunungkidul makin memprihatinkan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul mencatat, total kasus DBD mencapai 976 kasus dalam kurun waktu lima bulan di Tahun 2024.

Data Dinkes Gunungkidul, pada Januari tercatat sebanyak 75 kasus DBD. Tren peningkatan kasus terus terlihat di bulan selanjutnya mencapai 204 kasus. Kemudian, Maret sebanyak 351 kasus. Penurunan signifikan terjadi pada April dengan jumlah 239 kasus DBD. Di Mei terus menurun mencapai 107 kasus.

Bacaan Lainnya

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul Sidig Hery Sukoco mengatakan, dari keseluruhan kasus, pihaknya mencatat empat orang meninggal dunia akibat DBD. Empat orang tersebut mayoritas masih berusia anak-anak. “Mei ini satu anak perempuan meninggal dunia akibat DBD,” ujar Hery kepada awak media, Rabu (29/5).

Anak tersebut sempat mendapatkan perawatan di salah satu rumah sakit swasta di Kabupaten Gunungkidul, lalu di rujuk ke RSUP Sardjito. Kondisi anak yang tak kunjung membaik berujung meninggal dunia. “Korban mengalami Dengue Shock Syndrome (DSS) berujung meninggal dunia,” jelasnya.

Dinkes menyebut, kasus DBD terbanyak terdapat pada Kapanewon Wonosari dan Paliyan. Meskipun sempat mengalami penurunan, namun dikhawatirkan memasuki musim penghujan akan terjadi lonjakan kasus. “Wilayah yang terkonfirmasi menjadi sarang Nyamuk Aedes Aighypti, kami lakukan fogging,” jelasnya.

Namun begitu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk gencar melakukan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di lingkungan rumah dan sekitar. “Karena fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, langkah antisipasi masyarakat menjadi penting untuk terus dilakukan,” tuturnya.

Kepala Dinkes Gunungkidul Ismono mengatakan, pihaknya tengah membahas anggaran tambahan untuk fogging di lokasi-lokasi yang terindikasi nyamuk berbahaya itu. “Kalau disetujui (tambahan anggaran), semoga bisa untuk penanganan DBD,” ujar Ismono.

Dinkes juga akan menambah lokasi fogging fokus dalam upaya pemberantasan nyamuk berbahaya itu. Pihaknya juga mengupayakan untuk melakukan surveilens serta pengadaan insektisida dan larvasida.(*)

Pos terkait