Sejarah Situs Keramat Cimandung dan Sumur Kahuripan yang Dipercaya Membawa Ketentraman

Pohon Raga Sakti Situs Keramat Cimandung
Pohon Raga Sakti Situs Keramat Cimandung

MERCUSUAR.CO, Cirebon – Di Kabupaten Cirebon, seperti halnya Kota dan Kabupaten Tegal, terdapat banyak situs keramat yang penuh sejarah. Salah satunya adalah Situs Keramat Cimandung.

Situs ini juga terkenal dengan pohon raga saktinya, yaitu sebuah pohon besar di dekat pintu masuk situs yang memiliki batang meliuk-liuk dan tumbuh seolah-olah mengelilingi pohon-pohon di sekitarnya.

Bacaan Lainnya

Konon, pohon ini berasal dari tongkat milik Raden Walangsungsang yang ditinggalkan di tempat tersebut. Dipercaya bahwa pohon ini memiliki kemampuan untuk menangkal marabahaya dan mencegah orang-orang dengan niat buruk untuk memasuki tempat tersebut.

Selain Pohon Raga Sakti, Situs Keramat Cimandung juga terkenal dengan tujuh sumur keramatnya. Setiap sumur memiliki nama dan manfaat yang berbeda-beda. Salah satu yang paling terkenal adalah Sumur Kahuripan yang dipercaya dapat membawa ketentraman dalam kehidupan berkeluarga.

Saat ini, Situs ini menjadi salah satu destinasi wisata religi bagi para pengunjung. Meskipun demikian, tidak ada tiket masuk yang dikenakan, melainkan hanya disediakan kotak sumbangan untuk perawatan situs.

Tempat ini sering pula digunakan sebagai lokasi tirakat oleh masyarakat setempat maupun orang luar kota. Namun, karena masih berbentuk hutan, mayoritas yang melakukan tirakat di sini adalah kaum pria.

Sebagai salah satu tempat petilasan Raden Walangsungsang, Situs Keramat Cimandung menjadi Saksi bisu dari sejarah awal terbentuknya Cirebon.

Terletak di Desa Kerandon, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, situs ini menjadi tujuan wisata religi yang populer di wilayah tersebut.

Menurut Junaedi, wakil kuncen dari Cimandung, situs ini merupakan tempat belajar Raden Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi.

Prabu Siliwangi, sebagai raja Kerajaan Pajajaran, membuat Raden Walangsungsang kehilangan hak waris karena menganut agama Islam. Raden Walangsungsang kemudian berkelana ke Cirebon untuk mencari jati diri dan belajar tentang Islam.

Cimandung, diyakini telah ada sejak zaman kerajaan Indraprahasta yang bercorak Hindu sebelum Kerajaan Pajajaran.

Meskipun sejarahnya sulit teridentifikasi karena kekalahan Kerajaan Indraprahasta oleh Rahyang Sanjaya, Cimandung dianggap sebagai peninggalan bersejarah.

Sebagai tempat petilasan dan destinasi wisata religi, Situs Keramat Cimandung tetap memikat pengunjung dengan kekayaan sejarahnya yang terkait erat dengan perjalanan Raden Walangsungsang.

Pos terkait