Inilah Jefri Asmara, Buronan Asal Wonosobo yang Korupsi Tanah di Salatiga

jefri asmara
Jefri Asmara, Buronan Asal Wonosobo yang Korupsi Tanah di Salatiga

MERCUSUAR.CO, Wonosobo – Jefri Asmara (44) merupakan buronan asal Betengsari, Kertek, Wonosobo yang hingga kini masih dalam pernarian. Ia terlibat kasus korupsi jual beli tanah di Salatiga bersama 2 pelaku lainya.

Ia diburu polisi selepas mangkir dua kali panggilan selama bulan Agustus dan September. Padahal dua kroninya, sudah dijebloskan polisi ke jeruji besi.

“iya ada tiga tersangka, untuk JA (Jefri Asmara) masih buron, dua tersangka lainnya sudah kami serahkan ke Kejaksaan,” papar Dirreskrimsus Polda Jateng Kombes Dwi Subagio, Kota Semarang, Rabu (27/9/2023).

Polisi mencium ada beberapa pihak yang berusaha menyembunyikan Jefri. Oleh karena itu, Dwi mengingatkan pihak-pihak yang berupaya menghalangi, membantu, menyembunyikan tersangka akan dilakukan proses hukum yang berlaku.

Kronologi Jefri Asmara Korupsi Tanah di Salatiga

Kasus tersebut bermula ketika Dana Pensiun Perusahaan Pelabuhan dan Pengerukan (DP4) yang merupakan anak perusahaan PT Pelindo hendak membeli tanah di Salatiga.

Tanah tersebut rencana untuk proyek perumahan. Tiga tersangka lantas bermain di transaksi pembelian dengan sejumlah manipulasi.

Jefri Asmara dalam kasus ini dibantu oleh dua tersangka lainnya meliputi Direktur Utama DP4 periode periode 2011 – 2016 berinisial EW. Dan tersangka lainnya berinisial US kala itu berposisi sebagai Manajer Perencanaan dan Investasi DP4 periode 2006 – 2019 sekaligus Ketua Tim Pembelian Tanah di Salatiga tahun 2013.

“Kami sudah sebar telegram terkait daftar pencarian orang (dpo) untuk JA, kami minta menyerahkan diri. Masyarakat yang tahu segera lapor ke kami,” imbuh Kombes Dwi.

Ia mengungkapkan, kasus bermula pada tahun 2013 saat manajemen DP4 yang merupakan anak perusahaan PT Pelindo bermaksud melakukan investasi dana pensiun dengan membeli tanah untuk dijadikan perumahan.

Investasi tersebut diinisiasi oleh tersangka EW dan US selaku manajemen DP4. Keduanya kemudian bekerjasama dengan Jefri Asmara untuk membeli 5 bidang tanah seluas 37.476 meter persegi di Salatiga senilai Rp13,7 milyar.

Namun ternyata dalam proses investasi pembelian tanah tersebut terjadi serangkaian perbuatan melawan hukum.

“Pembelian tanah untuk keperluan invetasi tersebut bertentangan dengan arahan Kemenkeu terkait investasi serta SOP dari DP4 tentang investasi, selain itu berdasarkan Perda Kota Salatiga tanah yang dibeli juga masuk zona Pertanian Kering sehingga tidak bisa dijadikan lahan perumahan,” terangnya.

Hal itu mengakibatkan tanah yang telah dibeli oleh pihak DP4 tidak dapat dibalik nama, Sehingga secara yuridis pihak DP4 tidak bisa menjadi pemilik syah atas tanah tersebut.

“Hal ini diperkuat dengan sejumlah alat bukti berupa sertifikat dan dokumen lain serta keterangan 39 orang saksi termasuk 4 orang Ahli,” imbuhnya.

Proses penyelidikan dan penyidikan perkara juga menemukan fakta kerugian negara sebesar Rp4,9 miliar yang merupakan selisih pembelian tanah oleh pihak DP4 dan jumlah yang dibayarkan oleh tersangka Jefri Asmara kepada para pemilik tanah.

“Kami duga yang menikmati keuntungan adalah tersangka Jefri Asmara yang kami duga selaku broker dalam pembelian tanah tersebut serta dua orang manajemen DP4 yang sudah ditetapkan sebagai tersangka,” tuturnya.

Atas perbuatan para pelaku dijerat dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Saat ini, berkas penanganan kasus EW dan US telah diserahkan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jateng. Sementara Jefri Asmara, statusnya masih dalam pencarian.

Pos terkait