Viral Video Qariah Disawer, Ketum PP JQHNU: Menyalahi Adab

qari disawer 1672922889

Mercusuar.co, Semarang – Saweran sebagai apresiasi dan teriakan kalimat-kalimat sebagai bentuk ketakjuban itu memang ramai di kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh Nahdlatul Ulama (PP JQHNU) Kiai Saifullah menegaskan, agar budaya itu tidak perlu ditiru.

Read More

“Hal yang tidak positif, tidak sesuai dengan budaya ketimuran kita, jangan diikuti. Kita bisa mengapresiasi dan menunjukkan ketakjuban kita dengan cara menghormati Al-Qur’an dan pembacanya,” terangnya.

Saat ini sedang viral video seorang qariah (Nadia Hawasyi) tengah melantunkan ayat suci Al-Qur’an disawer. Tidak hanya ditaburi uang, seseorang juga menyelipkan uang tersebut ke kerudung sang qariah.

Menanggapi hal tersebut, KH Saifullah Ma’shum menyampaikan bahwa pembaca dan pendengar Al-Qur’an harus menerapkan adab.

“Nyawer ke qariah yang tengah membaca Al-Qur’an itu sangat tidak elok, menyalahi adab,” tegas Kiai Saifullah, dikutip dari NU Online pada Kamis (5/1/2023).

Menyikapi kasus demikian, Kiai Saifullah menegaskan agar panitia acara dapat mengingatkan pendengar agar tidak melakukan hal serupa. “Mohon dicegah! Jaga marwah Al-Qur’an dan Qarinya,” katanya.

Menurutnya, syiar Islam dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an ataupun shalawat sangatlah baik. Namun, kegiatan yang positif ini, menurutnya, jangan sampai dicampuri dengan budaya negatif dari luar.

“Jangan sampai tradisi baik ini terkontaminasi budaya yang tidak baik,” katanya.

Kiai Saifullah menegaskan bahwa dalam lantunan ayat suci Al-Qur’an dan shalawat itu bukan nilai entertain atau hiburannya yang ditonjolkan, melainkan perenungan atas kandungan ayat tersebutlah yang harus diperkuat. Sekalipun tidak memahami ayatnya, paling tidak lantunan ayat-ayat suci tersebut dapat memperkuat dzikir dan taqarrub kepada Allah.

“Didengarkan dengan khidmat. Direnungkan kandungan isinya. Paham ataupun tidak paham, setidaknya meningkatkan tadzkirah (ingat) kita kepada Allah,” ujarnya.

“Jadi, yang respons itu batin. Spiritual kita,” lanjut alumnus Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta itu.

Jika memang takjub atau kagum terhadap lantunan yang sedemikian indah atas ayat-ayat Al-Qur’an, menurutnya boleh diaktualisasikan dengan cara yang beradab dan menghormati pembaca dan Al-Qur’an itu sendiri. “Bisa dengan membaca tasbihtakbir,” katanya.

Namun, hal itu juga tidak boleh dilakukan dengan mengganggu ketenangan pembaca dan kekhidmatan menyimaknya. “Jangan sampai mengurangi keelokan dan kesyahduan bacaan Al-Qur’an,” tegasnya.

Oleh karena itu, bacaan-bacaan kalimat yang baik itu juga, seyogyanya disampaikan dengan suara yang lirih. “Bisa dengan nada lirih. Kalau suaranya keras, itu lantunan ayat suci Al-Qur’an atau sekadar tontonan jadinya?” tanyanya mengajak introspeksi.(dj)

Related posts