Pemprov Jateng Dorong Pemda Tingkatkan Kepesertaan Pegawai Non ASN pada BPJS Ketenagakerjaan

IMG 20220608 WA0066

Mercusuar.co, Semarang – Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno menghadiri acara Monitoring dan Evaluasi Kepesertaan Non ASN Pemda dan Pekerja Rentan Dalam Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan di Provinsi Jawa Tengah, di Hotel Patra Jasa, Selasa (7/6).

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong pemerintah daerah meningkatkan kepesertaan pegawai non Aparatur Sipil Negara (ASN), pada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.

Asisten Deputi Wilayah Bidang Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Jateng dan DIY, Dyah Swasthi menyebutkan, pegawai non-ASN di lingkungan Pemprov Jateng sudah terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu, guru non-ASN di Jateng yang sudah terdaftar dan terlindungi program BPJS Ketenagakerjaan, sebanyak 86 ribu orang.

“Untuk di daerah (kabupaten dan kota) masih berproses, karena status guru non-ASN bermacam-macam. Ada yang diangkat oleh Komite Sekolah, tetapi semua sedang dioptimalkan sesuai optimalisasi Inpres agar semua guru terlindungi,” katanya.

Dyah mengatakan, untuk mendorong peningkatan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan, pihaknya gencar melakukan pendekatan. Salah satunya melalui monitoring dan evaluasi yang melibatkan pihak-pihak terkait, sehingga berbagai kendala yang terjadi di kabupaten dan kota, dapat dievaluasi dan mendapat solusi. 

IMG 20220608 WA0065

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno mengatakan, dengan peningkatan tersebut, non-ASN mendapat pelayanan kesehatan, perlindungan kerja, serta program lain dari BPJS Ketenagakerjaan.

“Untuk ASN sudah pasti ikut, sedangkan yang non-ASN terutama yang di kabupaten dan kota, belum seluruhnya menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Ada beberapa kendala, di antaranya dari sisi penganggaran memang belum dianggarkan, sehingga sebagian iuran dari peserta dan disubsidi,” kata Sumarno, di sela acara.

Seluruh pegawai non-ASN di Pemprov Jateng, kata dia, sudah menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Keikutsertaan non-ASN sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, bisa dilakukan dengan sistem sharing atau ditanggung bersama. Yakni pembayaran tagihan per bulan sebagian diambil dari pemotongan gaji pegawai non-ASN yang bersangkutan, dan sisanya ditanggung oleh pemerintah.

“Guru non-ASN juga banyak. Kalau di kabupaten dan kota kan ada guru TK, SD, SMP yang honor sesuai jam mengajar bukan guru honorer bulanan. Kalau honorer bulanan akan lebih mudah karena mendapat penghasilan setiap bulan. Ada honorer yang dalam satu bulan hanya mengajar empat jam. Kondisi ini juga menjadi problem dalam keikutsertaan BPJS Ketenagakerjaan,” jelasnya.

Sedangkan pegawai non-ASN dari tenaga alih daya atau outsourcing, keikutsertaannya lebih pasti, karena pemberi kerjanya adalah perusahaan outsourcing. Sehingga, pihak BPJS Ketenagakerjaan tidak berkomunikasi langsung dengan pegawai non-ASN, melainkan dengan perusahaan outsourcing untuk mengikutkan pegawai outsourcing-nya menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Sekda berharap ada evaluasi lebih lanjut terkait kepesertaan pegawai non-ASN. Sehingga ke depan semua pemkab dan pemkot di Jateng bisa mengalokasikan anggaran untuk pembayaran iuran BPJS Ketenagakerjaan, khusus non-ASN.(ap)

Pos terkait