Hari Lingkungan Sedunia, Dinas Lingkungan Hidup Wonosobo Luncurkan Gerakan Cinta Serayu

7fserayu wsb ang
MERCUSUAR.CO Wonosobo - Dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Dinas Lingkungan Hidup Wonosobo (DLH) meluncurkan program Gerakan Cinta Serayu. Hal ini disasari atas keprihatinan terhadap kondisi penurunan kualitas lingkungan di wilayah DAS Serayu, yang salah satu indikasinya adalah terjadinya erosi.

Sungai Serayu memiliki peran yang vital bagi kehidupan masyarakat di Wonosobo dan beberapa kabupaten yang juga dialirinya. Namun nyatanya, terjadi degradasi kualitas lingkungan di wilayah daerah aliran sungai (DAS) Serayu. Gerakan Cinta Serayu diharapkan bisa mengajak masyarakat melakukan aksi nyata untuk memulihkan Sungai Serayu dan bisa berkelanjutan.

Kepala DLH Wonosobo Widi Purwanto menuturkan, erosi yang terjadi ini berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, yaitu dari segi pertanian. Ini lah yang perlu dipirkan, sehingga perekonomian tetap berjalan namun tidak sampai merusak lingkungan.

Lebih dari itu, Widi menjelaskan erosi yang saat ini terjadi tidak hanya pada sepanjang sungai saja melainkan juga membawa ribuan meter kibik sedimen di Bendungan Mrican. Menurut data tahun 2022, sedimentasi di Bendungan Mrican cukup memprihatinkan yakni setinggi sepertiga volume dari yang seharusnya.

Maka dari itu, tegas Widi, perlu ada penanganan di daerah hulu. Sebab jika tidak, dampaknya banyak sekali, salah satunya berpengaruh terhadap ketersediaan pasokan listrik. 

"Menurut prediksi Indonesia Power yang mengelola PLTA, pada 2025 kapasitas listrik menurun dan mempengaruhi kesediaan energi untuk Jawa dan Bali. Ini lah yang harus menjadi konsen kita, jadi diprioritaskan di DAS Serayu,"papar Widi usai Launching Gerakan Cinta Serayu di Desa Mlandi, Kecamatan Garung, Selasa (7/6).

Di Wonosobo, lanjut Widi, dialiri dua sungai yakni Serayu dan Bogowonto, namun untuk saat ini Serayu lebih ditekankan untuk dilakukan pelestarian. Sungai sepanjang 181 kilo meter ini pemanfaatannya lebih mengarah kepada bidang pertanian, sehingga kontribusi terhadap kerusakan besar jika tak diatur dengan baik. 

"Kalau Bogowonto lebih ke galian. Kalau kerusakan lingkungan sungai hampir semua di Wonosobo berkaitan dengan penanaman, pencemaran, pemakaian pestisida banyak sekali. Kerusakan ini kita jangan lihat pada fisik, tapi lebih kepada kualitas air dan bantaran sungai dalam kondisi memprihatinkan," papar Widi.

Sekali lagi, Widi menegaskan, melestarikan hulu Serayu merupakan tanggung jawab bersama agar kelak anak cucu dapat merasakan manfaatnya juga. Pihaknya juga akan terus mensosialisasikan gerakan ini, bahkan akan melakukan penanaman pohon dan tebar benih ikan bersama yang akan dilakukan serentak pada pertengahan Juni.

"Seperti Desa Mlandi yang merupakan bagian dari DAS Serayu bisa menjadi percontohan dari segi pertanian dan perikanan yang berbasis konservasi. Semoga bisa menjadi stimulan bagi daerah lain juga untuk melestarikan Serayu," pungkasnya.

Pada saat yang sama, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat berharap Gerakan Cinta Serayu akan membumi. Salah satu caranya adalah dengan melakukan kegiatan massif yang berkaitan dengan penghijauan maupun penebaran benih ikan. 

"Saya ingin gerakan ini bisa berkelanjutan. Kalaupun kita belum bisa merasakan manfaatnya, paling tidak untuk anak cucu kita nanti. Serayu asri ngrumat berkah saking Gusti," tutur Bupati Afif dalam sambutannya yang menggebu.

Sementara itu Kepala Desa Mlandi Budi Irawan menuturkan sudah sejak lama dia mengkampanyekan kepada warganya agar selalu mengedepankan konservasi lahan. Terbukti ada beberapa komunitas pecinta lingkungan, seperi Komunitas Pecinta Sungai Sekar Kalijaga selain itu ia juga menekankan masyarakat untuk selalu menjaga mata air Serayu.

"Kami juga punya lahan sekitar 6,4 hektar yang ditanami kopi arabika karena konservasi kami berbasis ekonomi. Kami menyadari desa kami berada di salah satu DAS Serayu, kami tidak ingin terjadi kerusakan alam di sini sebab dampaknya nanti ada pada desa di bawah kami," tukasnya.

Tak hanya menanam kopi saja, Budi menjelaskan dalam upaya pelestarian. Melainkan juga dengan penghijauan di pinggir jalan, menebar benih ikan serta melarang penangkapan ikan dengan strum dan pengelolaan sampah melalui bank sampah. "Harapannya semoga tidak hanya kami yang di hulu saja yang melakukan upaya ini, tapi juga di hilir. Kalau kita merawat alam, alam akan merawat kita," ucap Budi.

Pos terkait