Curah Hujan dan Sistem Drainase Buruk Akibatkan Banjir di Wonosobo

3ebanjir wsb ang
MERCUSUAR.CO Wonosobo - Sejumlah titik di Kabupaten Wonosobo dilanda banjir akibat curah hujan yang tinggi dan sistem drainase yang tidak mampu menahan debit air sehingga meluap. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap cuaca ekstrim dan kondisi alam Wonosobo yang rawan bencana. 

Hujan deras mengguyur Wonosobo pada Kamis (2/6) mulai pukul 15.00 hingga 19.00. Sejumlah wilayah pun terkena banjir, di antaranya Desa Pandansari, Perumahan Permata Hijau, Semagung, Perumahan Linmas Garden dan Kalianget. 

Kalakhar BPBD Wonosobo Bambang Tri mengatakan banjir setinggi 50 hingga 110 cm ini tak hanya di permukiman warga, namun juga di ruas jalan. Akibatnya banyak material peralatan rumah tangga terbawa arus termasuk kendaraan roda dua. 

“Kami dibantu tim relawan dan juga TNI Polri berupaya membenahi material banjir di pemukiman warga hingga pukul 23.00. Kemudian dilanjutkan dengan gotong royong warga untuk membersihkan material lumpur yang ada di bahu-bahu jalan,” jelas Bambang saat dikonfirmasi Suara Merdeka, Jumat (3/6).

Bambang memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Hingga berita ini diturunkan, Bambang belum bisa memastikan berapa taksiran kerugian yang disebabkan oleh banjir yang sempat heboh di media sosial ini. “Karena terjadi di banyak titik jadi belum bisa kami himpun,” tukasnya. 

Dia mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap cuaca ekstrim, terlebih lagi kondisi tanah Wonosobo labil dan rawan bencana. Selain itu juga warga perlu menanamkan kesadaran untuk menjaga alam.

"Kami ingin masyarakat Wonosobo untuk bahu membahu menggerakkan penghijauan agar bisa menjaga alam. Di samping itu juga jangan buang sampah sembarangan apalagi di bantaran sungai," tegas Kalakhar. 

Ditemui secara terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Nurudin Ardiyanto menjelaskan saat ini kondisi drainase di Wonosobo sudah tidak mampu menampung perubahan penggunaan lahan untuk kepentingan pembangunan. Sebut saja di kawasan yang terjadi banjir kemarin misalnya, sudah banyak lahan yang dibangun untuk perumahan maupun bangunan kepentingan publik lainnya. 

"Sementara drainase ini merupakan infrastruktur yang dibangun untuk mengalirkan air permukaan yang tidak terserap tanah. Misal di atas lahan 1000 meter kita bangun rumah seluas 500 meter, sisanya ini kan tidak bisa menyerap air maka dibutuhkan drainase," jelas Nurudin yang ditemui di kantor dinasnya, Jumat (3/6).

Di Wonosobo, lanjut Nurudin, makin banyak pembangunan yang kemudian menutup lahan kosong. Dengan tutupan makin besar, maka air yang terserap ke dalam tanah main besar. Sementara sepanjang jalan yang terkena banjir kemarin juga ada aliran irigasi yang mengairi sawah. 

"Irigasi itu kan mengairi sawah, kalau drainase fungsinya membuang air yang dalam hal ini melewati Wangan Aji. Kemarin yang banjir ini jadinya aliran irigasi menampung air yang harusnya ke drainase, sehingga meluap terutama saat curah hujan tinggi," imbuhnya. 

Untuk mencegah hal serupa terulang kembali, pihaknya telah menyiapkan solusi jangka pendek, menengah dan panjang. Pada jangka pendek, jelas Nurudin, pihaknya melakukan inspeksi terhadap infrastruktur apakah terjadi pendangkalan pada Wangan Aji.

Kemudian pihaknya juga akan melakukan langkah jangka menengah yakni dengan menyusun rencana membuat sistem drainase Kota Wonosobo. Sebab sistem drainase yang ada kini sudah ada semenjak puluhan tahun lalu, namun seiring perkembangan pola penggunaan lahan berubah.

Sedangkan jangka panjang tentu saja dengan pelaksanaan yang perlu sinergi dari semua pihak termasuk masyarakat. Nurudin menekankan bahwa pelaksanaan ini menjadi PR besar dan butuh biaya banyak.

"Maka dibutuhkan sinergi dari masyarakat, misalnya saja taat bayar pajak. Satu lagi terkait konservasi lahan, bagaimana kita membangun kesadaran masyarakat untuk peduli dengan alam, dimulai dari diri pribadi," pungkas Nurudin.

Pos terkait