Bupati Ngesti Perpanjang Penutupan Pasar Hewan di Wilayahnya

IMG 20220602 WA0008

MERCUSUAR.CO, Kabupaten Semarang – Bupati H Ngesti Nugraha, mengatakan Pemerintah Kabupaten berencana memperpanjang penutupan pasar hewan di seluruh wilayahnya.

Hal tersebut untuk mengantisipasi semakin merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan di Kabupaten Semarang. Hal itu dikatakannya, usai meninjau dua kandang komunal sapi di Desa Kalisidi, Ungaran Timur, Rabu (1/6).

Turut menyertai, Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Pangan Wigati Sunu dan Kades Kalisidi Dimas Prayitno Putra, Bupati Ngesti melihat langsung kondisi puluhan ternak sapi perah yang terjangkit PMK. Puluhan peternak mengikuti kunjungan itu dengan antusias. Mereka mengeluhkan kondisi wabah penyakit yang berpotensi mendatangkan kerugian puluhan juta rupiah itu.

Dihadapan peternak, Bupati mengungkapkan rasa prihatin atas bencana non alam itu. Menurutnya Pemkab akan terus berupaya menekan penyebaran PMK dengan berbagai cara dan kerja sama antar instansi. “Penutupan seluruh pasar hewan sampai 6 Juni mendatang direncanakan akan diperpanjang. Hal itu untuk mengendalikan lalu lintas ternak dari luar daerah agar tidak mudah masuk ke Kabupaten Semarang,” ujarnya.

Ditambahkan Bupati, Pemkab juga akan membentuk satuan tugas (satgas) penanganan PMK. Pembentukan satgas itu akan dibahas lebih lanjut bersama Forkompimda dan instansi terkait.

Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Pangan Wigati Sunu menjelaskan, PMK pertama kali teridentifikasi pada pertengahan Mei lalu. Sampai dengan akhir Mei lalu tercatat ada 494 ekor sapi yang diduga (suspect) PMK. Dari jumlah itu sebanyak lima ekor terkonfirmasi dan dua ekor mati. Kecamatan Bawen menjadi satu-satunya wilayah zona merah PMK karena telah terkonfirmasi kasusnya. Sedangkan kecamatan suspect PMK antara lain Pringapus, Ungaran Barat, Ambarawa, Tuntang, Pabelan, Getasan, Tengaran, Susukan, Suruh dan Kaliwungu.

“Penanganan ternak yang diduga terjangkit dilakukan oleh dokter hewan dan tenaga para medis hewan dengan memberikan vitamin dan obat-obatan,” terangnya.

Sementara itu Kepala Desa Kalisidi Dimas Prayitno menjelaskan satgas PMK desa terus melakukan pemantauan penyebaran penyakit ini. Populasi sapi di Kalisidi sebanyak 360 ekor di enam kandang komunal dan 300 ekor di kandang perorangan.

“Sebanyak 210 ekor sapi diduga terjangkit PMK dan dua ekor mati. Hanya dua kandang komunal yang masih steril dari virus PMK,” rincinya.(dj)

Pos terkait